Suara Pembaca – Eramuslim http://www.eramuslim.co Media Islam Rujukan Fri, 29 Jan 2016 07:30:37 +0000 id-ID hourly 1 https://wordpress.org/ Surat Terbuka Buat Jokowi Dari Para Penderita Kanker Indonesia http://www.eramuslim.co/suara-kita/suara-pembaca/surat-terbuka-buat-jokowi-dari-para-penderita-kanker-indonesia.htm Sun, 03 Jan 2016 04:00:46 +0000 http://www.eramuslim.com/?p=120661 eectEramuslim.com – Sejumlah pihak yang tergabung dalam Yayasan Lavender Indonesia meneriakkan keluh kesah mereka terkait larangan penggunaan alat ECCT buatan Prof Warsito. Alat itu diketahui mujarab untuk mengatasi penyakit kanker di Indonesia.

Namun herannya, meski diketahui mujarab, praktek Prof Warsito yang dinamakan ECCT itu justru dibungkam. Dengan dalih belom memperoleh izin, Warsito dan timnya dilarang membuka praktek.

Terkait hal tersebut, Indira Abidin seorang penerima anugrah kanker dan Ketua Yayasan Lavender Indonesia mengirimkan surat kepada Presiden Jokowi. Surat itu berupa permohonan agar Presiden tetap mengizinkan alat ECCT dapat digunakan bagi pasien kanker di Indonesia.

Berikut surat terbuka tersebut:

SURAT TERBUKA UNTUK BAPAK PRESIDEN RI, JOKO WIDODO

Bapak Presiden yang sangat kami hormati, semoga Bapak selalu sehat wal afiat, sehat lahir batin, bebas dari penyakit apapun.

Kesehatan adalah hak asasi setiap rakyat Indonesia. Dengan sehat kami bisa berkreasi, membangun keluarga, membangun masyarakat dan bangsa. Sayangnya, sehat ini susah didapatkan di Indonesia, terutama bagi kami penerima anugerah kanker.

Ada 4,3 penerima anugerah kanker per 1.000 penduduk Indonesia. Namun hanya ada 0,6 tempat tidur dan 0,2 dokter per 1.000 penduduk untuk melayani berbagai macam penyakit, tidak hanya penyakit kami. Belum lagi kanker adalah penyakit yang cepat sekali mengambil nyawa kami.

Banyak di antara kami yang merasa depresi, bahkan hampir bunuh diri, mendengar diagnosa kanker. Pengobatan susah didapat, apalagi di daerah. Bahkan bagi kami yang kebetulan tinggal di kota, punya uang, dan mampu berobat, tak ada dokter yang dapat menjamin kesembuhan kami. Bahkan di Amerika yang sangat siap melayani pun, tingkat survival 5 tahun untuk kanker payudara hanya 11% (SEER).

Bagaimana kami tak merasa ajal semakin dekat?

Di tengah gelap ada cahaya.

Ada ECCT, inovasi jaket listrik yang mampu mengacaukan pembelahan sel kanker dengan daya rendah. Dari 3.183 pengguna ECCT, 1.530 membaik kondisinya dan 1.314 lainnya sukses menghambat pertumbuhan kankernya.

Satu hal yang menyentuh hati kami, 51,74% pengguna ECCT adalah mereka yang tak lagi dianggap punya harapan oleh dokter. Dan ECCT bisa memberi harapan bagi mereka.

Alhamdulillah.

Sayangnya, sama seperti nasib Gojek, semua inovasi pasti dihadang oleh industri yang sudah mapan dan kesenjangan hukum yang tak bisa mengejar kecepatan inovasi. ECCT digugat dan kini kliniknya ditutup. Tiba-tiba harapan itu hilang, cahaya itu padam.

Pak Jokowi,
Bapak sudah dengan sangat baik membantu Gojek tetap ada. Kini, bantulah kami membangun harapan, menyalakan cahaya. Bantulah kami agar ECCT dapat tetap dinikmati oleh rakyat yang tak lagi punya harapan. Agar kami dapat kembali membangun keluarga, masyarakat dan bangsa.

Kami sangat menghormati proses perlindungan yang dilakukan Kemenkes, tapi nyawa kami tak bisa lama menunggu. Tak bisa lama menunggu Indonesia siap obati kami, tak bisa menunggu birokrasi siap hadapi inovasi.

Kalau sampai.. kalau sampai.. suatu hari Bapak menerima kabar bahwa orang-orang yang Bapak kasihi tak lagi punya harapan, dan hanya ECCT yang bisa memberikan harapan, bukankah Bapak berharap ECCT ada untuk membantu mereka?

Bantulah kami Pak, agar kalau.. kalau sampai kemungkinan itu terjadi, ECCT dapat membantu siapapun yang Bapak kasihi untuk berusaha sembuh dari kanker.

Terima kasih banyak.
Kami sangat percaya, Bapak dapat menyalakan kembali cahaya harapan jutaan penerima anugerah kanker di Indonesia.

Jakarta, 1 Januari 2016
Indira Abidin, Penerima Anugerah Kanker & Ketua Yayasan Lavender Indonesia

(ts)

]]>
Semiskin Itukah Pemerintah Jokowi, Hingga Rakyat Disuruh “Sedekah BBM”? http://www.eramuslim.co/suara-kita/suara-pembaca/semiskin-itukah-pemerintah-jokowi-hingga-rakyat-disuruh-sedekah-bbm.htm Sat, 26 Dec 2015 06:11:04 +0000 http://www.eramuslim.com/?p=120211 jokowiEramuslim.com – Saat pilpress 2014 hanya satu kali saya menonton debat capres. Itu pas banget ketika, Presiden Jokowi dengan bangga memamerkan kartu ini itu pada lawannya.

BBM_dana ketahanan energi

Waduh lha emang anggaran belanja Negara yang mencapai 3000trilliun itu masih gak mampu ya untuk membiayai riset? Dulu katanya uang segitu turah-turah??

Sambil nada tinggi bercerita bahwa dana APBN kita sudah cukup sangat banyak, turah-turah. Untuk membiayai apapun program pemerintah. Dananya ada… dananya ada.

“Tinggal sistemnya aja yang perlu diperbaiki”. Kata Pak Jokowi.

bbm sedekahTapi ketika menjabat Presiden. Semua apa yang diomongkan dan arah kebijakan kok tidak seperti janjinya semasa kampanye.

Kebijakan Pemerintahan Jokowi sampai detik ini. Lebih banyak mengeluh kekurangan dana. APBN Bocor. Terpaksa harus saweran.

Walhasil, ketika rakyat seharusnya menikmati harga BBM yang murah. Terpaksa dicekik, harga BBM tak diturunkan dengan alasan Pemerintah lagi kekurangan dana.

Sebagai info saja. Pada 2014 saat menaikkan harga BBM, harga minyak dunia mencapai 120 dollar/barel. Dan sekarang akhir 2015, cuma 35 dollar/barrel.

Ketika rakyat diberi harapan bahwa tahun depan, 2016, Harga BBM akan turun. Sepertinya kok Presiden kita tetap tak rela kalau rakyat sedikit sumringah karena menatap tahun baru dengan harga BBM baru.

Agar tidak terlalu murah. Rakyat dibebani pungutan pada setiap liter BBM yang dibeli (Rp 200/liter premium dan Rp 300/liter Solar). Katanya untuk tujuan riset/pengembangan energi terbarukan/non minyak bumi.

Jika kebutuhan BBM di Indonesia adalah 22juta Kiloliter. Atau = 22 Milyar Liter per tahun. Dan jika biaya pungutanya 200rupiah/liter… Maka total ada 4,4 Trilliun Rupiah uang rakyat yang akan masuk ke Kantong Pemerintah.

Entar uangnya bocor gak tuh?

Harapan saya, semoga uang pungutan yang dibebankan pada setiap liter BBM itu dihapuskan.

Nih video yang merekam statemen bahwa dananya sudah ada:

Masih Ingat Debat Capres Jokowi vs Prabowo? Dananya ada, Tapi…

 

(ts/terkininews)

]]>
Surat Terbuka Prof. Saldi Isra Pada Jokowi Soal Ketidakpedulian Presiden Atas Pelemahan KPK http://www.eramuslim.co/suara-kita/suara-pembaca/surat-terbuka-prof-saldi-isra-pada-jokowi-soal-ketidakpedulian-presiden-atas-pelemahan-kpk.htm Thu, 17 Dec 2015 01:30:58 +0000 http://www.eramuslim.com/?p=119549 salsiEramuslim.com – Ahli hukum tata negara yang juga aktivis anti korupsi, Prof Saldi Isra marah karena Presiden Jokowi cuek saat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) diobok-obok. Pada sisi lain, Jokowi justru memberikan perhatian lebih pada kasus Papa Minta Saham yang menyeret nama Ketua DPR, Setya Novanto. Inilah isi surat Prof Saldi Isra yang ditulis dan dikirimkan ke Presiden Jokowi.
Ulu Gaduik, 09 Desember 2015
 
Kepada
Yth. Bapak Joko Widodo Presiden RI
 
Bapak Presiden…
Sebagai warga negara, saya sangat senang ketika Bapak murka kepada pejabat tinggi negara yang terindikasi mencatut nama Bapak dan nama Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam proses perpanjangan kontrak Freeport.
 
Kami saksikan di layar televisi, dengan suara bergetar dan tangan gemetar menahan amarah, Bapak menujukkan bagaimana semestinya seorang Presiden bersikap di tengah “sandiwara” sebagian anggota Badan Kemormatan DPR berupaya melindungi sang petinggi negara.
 
Saya (dan mungkin juga mayoritas warga negara yang lain) menilai bahwa kemurkaan Bapak tersebut adalah bentuk kemarahan yang konstitusional.
 
Sayang sekali, Bapak tidak pernah menujukkan sikap serupa ketika lembaga yang sejak tahun 2003 menjadi lokomotif agenda pemberantasan korupsi di Negeri ini diterpa gelombang maha-dahsyat. Buktinya, di awal tahun 2015, ketika dua orang pimpinan KPK (Bambang Widjojanto-Abraham Samad) dijadikan tersangka.
 
Setelah itu, Novel Baswedan seorang penyidik senior KPK juga mendapat perlakuan serupa. Padahal, banyak kalangan menilai proses hukum kepada mereka merupakan alasan yang bisa dikatakan hanya dicari-cari.
 
Namun, Bapak tidak menunjukkan sikap tegas melindungi KPK dan orang-orang yang telah mewakafkan diri mereka mewujudkan gagasan besar mengurangi laju praktik korupsi di Negeri ini.
 
Bapak Presiden…
Jikalau dalam skandal pencatutan nama Bapak dan nama Wakil Presiden Jusuf Kalla Bapak murka begitu rupa, harusnya sikap serupa juga Bapak tunjukkan dalam tragedi yang menimpa KPK.
 
Sebagai warga negara, pandangan demikian hadir karena Bapak berhutang kepada kami warga negara melalui untaian pohon janji yang dituliskan dan digoreskan dengan baik dalam Nawa Cita.
 
Secara terang-benderang, dalam Nawa Cita, Bapak berjanji memprioritaskan pemberantasan korupsi dengan memperkuat KPK. Tidak hanya itu, Bapak juga berjanji akan mendukung KPK.
Mestinya, dengan membaca komitmen sebagaimana tertuang dalam Nawa Cita tersebut, tak ada alasan untuk tidak melakukan langkah darurat menyelamatkan KPK. Namun entah apa yang sesungguhnya terjadi, kami tidak melihat langkah darurat dan langkah nyata penyelamatan yang berpihak kepada KPK.
 
Padahal, bagi kami sebagian warga negara yang menyadari betul bahaya korupsi, menyelamatkan KPK merupakan bentuk nyata menyelamatkan masa depan agenda pemberantasan korupsi.
 
Bapak Presiden…
Di tengah situasi darurat yang melanda KPK, saya masih berharap Bapak menujukkan sikap tegas menolak revsi UU KPK. Paling tidak, Bapak berupaya menunda sampai sentimen negatif dari sebagian kekuatan politik di DPR jauh berkurang dibandingkan saat ini.
 
Dalam batas penalaran yang wajar, pilihan ini menjadi semacam keniscayaan karena dengan sentimen negatif tersebut langkah merevisi UU KPK sangat mungkin menjadi strategi lain untuk melumpuhkan KPK.
 
Kekuatiran ini memiliki alasan yang amat kuat karena suatu ketika pernah terungkap keinginan sebagian kekuatan politik DPR untuk membatasi KPK hanya berusian 12 tahun saja. Tidak hanya itu, wewenang penyadapan KPK menjadai incaran sejumlah politisi untuk dihilangkan.
 
Paling tidak wewenang ini dibatasi sedemikian rupa. Perlu Bapak ketahui, membatasi sedemikian rupa dan apalagi menghilangkan wewenang penyadapan, KPK akan berubah menjadi lembaga seekor burung yang patah sayap.
 
Dorongan agar menghentikan atau paling tidak menunda revisi UU KPK hanya demi memenuhi janji Bapak dalam Nawa Cita. Dalam soal ini, silakan Bapak membaca kembali Nawa Cita ihwal komitmen penegakan hukum huruf h yang secara eksplisit menyatakan berkomitmen menolak segala bentuk pelemahan KPK.
 
Komitmen Bapak ini muncul karena menyadari bahwa KPK merupakan tumpuan masyarakat di dalam memberantas korupsi. Mestinya Bapak sadar, bilamana revisi terjadi, pelemahan KPK tidak bisa dihindari.
 
Bapak Presiden…
Surat ini dibuat dini hari pada penanggalan hari anti korupsi sedunia. Sebagai warga negara, saya perlu menyampaikan dan mengingatkan bahwa Bapak berhutang pada agenda pemberantasan korupsi.
 
Saya percaya, salah satu pertimbangan penting para pemilih memilih Bapak sebagai Presiden di dalam Pemilu 2014 lalu adalah komitmen tinggi terhadap KPK dan agenda pemberantasan korupsi.
 
Jujur saja, dari semua calon presiden yang pernah ada sejak rejim pemilihan langsung, presiden dan wakil presiden, goresan dalam Nawa Cita dapat ditasbihkan sebagai untaian janji yang paling tegas terhadap KPK dan agenda pemberantasan korupsi.
 
Sebagai salah seorang yang pernah diganjar dengan anugerah Bung Hatta Anti Corruption Award (BHACA), apakah Bapak Presiden Jokowi siap dicatat dalam sejarah bahwa KPK mati dalam periode Bapak sebagai presiden?
 
Di penghujung surat ini, saya hanya bisa berharap, Bapak menyisakan sedikit waktu untuk membaca goresan ini. Harapan sesungguhnya, imaji antikorupsi hidup lagi sehingga Bapak juga murka melihat masa depan agenda pemberantasan korupsi sedang berada dalam ancaman yang sangat serius.
 
Salam hormat saya,
S A L D I I S R A (ts/pm)
]]>
Kritik Keras Bang AD Untuk Hizbut Tahrir Indonesia http://www.eramuslim.co/suara-kita/suara-pembaca/kritik-keras-bang-ad-untuk-hizbut-tahrir-indonesia.htm Wed, 16 Dec 2015 01:00:53 +0000 http://www.eramuslim.com/?p=119447 adhyaksaEramuslim.com – Tulisan Hizbut Tahrir Indonesia tentang pepesan kosong Pilkada, menimbulkan reaksi yang keras dari gerakan-gerakan Islam lain. Mereka yang memperjuangkan Islam dalam sistem, melihat HTI tidak ada ukhuwah dengan gerakan Islam lain.

Berikut tulisan calon gubernur DKI Jakarta Adyaksa Dault alias Bang AD yang tersebar di Medsos menanggapi tulisan HTI itu:

“Islam tidak melarang seorang muslim memimpin negara meskipun negaranya belum islami, contohnya at- Thufail bin Amru Addausi setelah masuk islam tetap memimpin walaupun sebagian rakyatnya masih keberatan dgn diterapkan larangan perzinahan atas mereka…

Raja an-Najasyi masuk Islami tapi selama 3 th wilayahnya blm bergabung dg pemerintahan nabi saw dan blm bisa menerpkan syariat islam. Bgt jg raja sblmnya masuk islam tp merahasiakanya spy tidak digulinkan oleh uskup2 di Habasyah.

Islam tidak melarang membantu pemimpin yg kafir dlm tugasnya mencegah kezalim. Dimasa jahiliyah terjadi hilful fudlul yg sepakat mencegah kezaliman atas warga.. Itu terjadibsblm nabi diutus sbg rasul kmd nabi mengomentarinya : seandainya aku diundang seksrang dimasa islam niscaya aku akan ikut dalam pakta itu. Dan ini menunjuksn boleh membantu negsra2 kafir dalam upaya mencegah kezaliman atas negara manapun. Apalagi membantu pemerintah yg dipimpin oleh presiden muslim dlm rangka mencegah kezaliman atas rakyat dlm bentuk apapun. Baik kezaliman militer, politik, ekonomi, sosisl maupun yg lain.

Maka boleh menjadi mentri atau gubernur dlm pemerintahan ini wlpn tidak berasasksn islam utk mencegah kezaliman atas kaum muslimin.

Islam tidak melarang menduduki jabatan dalam pemerintahan yg tidak berasaskan syariat Allah spt halnya nabi Yusuf a.s dlm pemerintah kerajaan Mesir dimana urusan keuangan negara diserahkan kpd nabi Yusuf a.s demikian sejarah bicara tentang kepemimpinan dalam Islam. Kalau memang HT menganggap pilkada atau pemilu itu bertentangan dengan syariat islam. Setidaknya untuk daerah daerah tertentu di indonesia seperti Jakarta. Kalimantan barat mereka sedang bertarung menghadapi pemimimpin pemimpin yg berlindung dibalik baju nasionalisme tapi mereka sesungguhnya membenci pemimpin Islam !!

Lalu ada pemimpin Islam yg punya peluang untuk memenangkan pilkada demi juga perjuangan Al Islam lalu kalian dengan mudahnya mengeluarkan brosur selebaran yg mengatakan kalau pilkada atau pemilu itu pepesan kosong dan malah memprovokasi ummat islam untuk tidak memilih atau golput dan kalian bagi bagikan dari masjid ke masjid dari mushollah kemushollah !! Apakah itu artinya sama juga kalian membiarkan pemimpin pemimpin diluar islam memenangkan pemilihaaaan ??? Masya Allah !! Apakah kalian tidak membuka mata kalian melihat berapa banyak pemimpin pemimpin Islam di daerah yg berjuang dgn caranya sendiri mencoba menegakkan sebagian syariat islam dengan sebatas kemampuan mereka, Sadarkah kalian ??? Kalian saksikan bagaimana walikota bogor. Gubernur jabar.
Surabaya.Bojonegoro serta masih banyak lagi didaerah yg telah berbuat untuk dakwah dan islam ??? Sadarkah kaliaan ???. Tolong kalian harus sadar.

Khilafah pasti ada tanpa atau peran kalian !!! Dan bukan hanya kalian yg mengklaim berjuang untuk tegaknya Khilafah !! Maka biarkan mrk yg berjuang dgn caranya sendiri baik dari dalam sistem atau diluar sistem saling bahu membahu !!! Bukan dengan cara melemahkan perjuangan mrk dengan brosur brosur .selebaran selebaran yg memprovokasi orang islam untuk tidak memilih dgn menyebarkannya di mesjid mesjid mushollah mushollah seperti yg kalian lakukan !!! Wallahu a’lam.

Semoga Allah SWT membuka mata hati pemimpin kalian . Sampaikan pesan ini pada pemimpin kalian nun jauuh disana !! Yg kalian sami’na Wa a’tho’na padanya !!! Katakan ini pesan dari seorang Indonesia yg rindu pada khilafah !! Yg pernah lima tahun menjabat mentri di Indonesia dan sudah sering ikut acara kalian !! Bahkan hari ini di bully di medsos dari lawan lawan politiknya dengan memposting fotonya ketika memegang bendera Khilafah bendera HT di Istora Senayan dan mrk komentari dgn mengatakan inilah calon taliban !! Islam Ekstreem !!…tapi dia tetap ikhlas menerimanya karena ini bagian dari resiko perjuangan tegaknya khilafah !! Tapi tidak mau mematahkan perjuangannya dan ikhwah ikhwahnya yg berjuang dalam sistim yg ada karena kondisi yg ada menghendaki demikian !!!….WAKAFABILLAHI SYAHIDAA !!! (ts/pribuminews)

]]>
Surat Eks Jokowers Kepada Prabowo Subianto http://www.eramuslim.co/suara-kita/suara-pembaca/surat-eks-jokowers-kepada-prabowo-subianto.htm Sat, 07 Nov 2015 03:00:15 +0000 http://www.eramuslim.com/?p=116515 surat pendukung prabowoEramuslim.com – Berikut ini sebuah surat dari seorang gadis cantik bernama Isanti Chandra yang mengaku dirinya mantan pemuja Jokowi (Jokowers, istilah netizen), surat ini ia ditujukan kepada Prabowo Subianto. Berikut Isi suratnya:
Bangun pagi di sambut dengan segelas kopi dari Tuhan yang mengantarkan semangat untuk menjalani hari agar bisa lebih berarti. Selamat pagi Pak Prabowo Subianto,bagaimana kabar nya ??
 
Banyak hal yang membuat aku belajar arti besar arti sebuah kepemimpinan tentang pengorbanan dan hati besar . tidak semua mampu menjalani nya tapi kekuatan hati yang berbicara.
 
jiwa pemimpin tidak bisa berbohong bagaimana keadaannya akan tetap setia dengan rakyat nya , mungkin saya adalah salah satu dari jutaan rakyat Indonesia yang menyesal dulu tidak memilih bapak , seandainya waktu bisa di putar andai semua bisa di ulang energi ku ingin aku berikan energi ku dan semangat ku kepada bapak buat membela buat mendukung dan mengantarkan bapak ke istana , sebagai anak negeri aku hanya bisa menangis melihat keadaan negara ini semakin di ambang kehancuran banyak rakyat pribumi yang tidak bisa menjadi tuan di negeri sendiri , dan semakin kesini aku hanya melihat pilihan ikut menjadi mafia atau sebagai anak negeri yang mempunyai ketulusan untuk menjaga ibu pertiwi , negara ini di sulap menjadi lahan bisnis dan rakyat hanya sebagai penonton yang di suguhi sirkus para elite negeri ini , menahan lapar sambil bertepuk tangan . sangat terasa ketika mana pemimpin di lahirkan dari media dan mana pemimpin yang sudah fight dan berjuang untuk negeri ini.
 
Dan bapak lah yang mempunyai pengorbanan buat negara ini,aku ingin bapak menjadi pemimpin kami , sebagai rakyat kami hanya bs bersedih setiap hari di beri tontonan perdebatan , keputusan2 yang tidak menenangkan dan hak hak rakyat semakin di batasi , ini tanah kami pak kami lahir di sini kenapa kita seperti ketakutan di negeri sendiri .
 
Pemimpin itu seperti Kasih Ibu yang selalu menenangkan dan memberikan kabar baik buat anak anak nya meskipun berbeda karakter bukan berarti harus di adu domba tapi bagaimana sang ibu itu bisa merangkul anak anak nya agar tenang damai dan menjaga persaudaraan meskipun banyak perbedaan , Indonesia di lahirkan sebagai negara besaar suku , agama dan bahasa yang menjadikan kita berkarakter .
 
saya mengutip sastra jawa
Opo ono , biso bener tanpo luput yen wedi luputo benere tan biso panggih awit iku wis kalebu jodoniro
 
* apa ada kebenaran tanpa kesalahan sebelumnya takut berbuat salah akan membuat mu tak pernah menjumpai kebenaran,Sebab salah dan benar itu adalah termasuk jodoh mu pula*
 
tidak banyak orang yang mampu mengakui kesalahan dan bertanggung jawab atas apa yang di lakukannnya mereka memilih egois dan bermain aman hanya untuk mengenyangkan perut sendiri , jiwa jiwa pengorbanan rapuh hilang senyap dan sembunyi di balik gaduh nya negeri ini
 
tetaplah tenang dan tegar pak,rakyat merindukan sosok seperti bapak permasalahan negara ini sangat kompleks dan luas , saya rasa tidak ada kata sulit untuk merubah nya ketika di setiap jiwa pemimpin ada kemauan keras , konsisten dan berani
 
pemimpin untuk rakyat bukan pemimpin boneka yang hanya untuk mengenyangkan sang ratu dan golongannya.
 
Bapak Libra kan zodiak nya ? sama pak saya juga Libra menjadi diri sendiri dan berkata seada adanya memang tidak semua bisa menerima tapi itulah karakter Libra,lebih baik berkata jujur dari pada berbohong tapi mematikan nurani
 
di Indonesia tidak kekurangan orang pintar dan orang yang berteori tapi negeri ini membutuhkan orang yang bisa mengobati luka Indonesia yang tidak hanya berbicara .
 
bangkitkan kami pak obati luka negeri ini kuatkan kami di tengah kerapuhan agar kita semakin erat tanpa harus melukai . jaga hak rakyat .
Beragama bersuku dan berbudaya agar kita bs di pandang lebih punya wibawa dan tidak di remehkan negara asing saya tidak pernah peduli dengan omongan omongan orang tentang pandangan penilaian thdp bapak , saya sudah merasakan dulu belajar mengenali bapak hanya dr satu sisi tapi skrg terlihat siapa pemimpin sebenarnya negeri ini dan siapa pemimpin yang menguras habis kekayaan negeri ini saya harap teman teman mampu belajar , menjadi generasi yang kuat tidak mudah di arahkan dengan kedengkian yang hanya untuk kepentingan golongan semata,belajar lebih giat,belajar mengenali sosok pemimpin , tidak perlu takut salah karena dalam kesalahan jika kita ada niat tulus untuk belajar maka titik terang akan menuntun mu dengan kepala tegap dan gagah.Tantangan generasi Indonesia saat ini bukan lagi perihal mengangkat senjata untuk mengusir penjajah,tapi bagaimana menjaga keutuhan NKRI,menghadapi persaingan global dan ekonomi di era globalisasi tanpa meninggalkan karakter Negara Indonesia.Indonesia di bangun dari berbagai suku budaya dan agama,tanpa itu belum bisa di sebut Indonesia.Menghadapi realita kenyataan di negara ini yang saling tuduh , saling fitnah dan saling melempar tanggung jawab,tidak akan menyelesaikan solusi.dan pemimpin yang baik adalah berani mengambil resiko dan tanggung jawab untuk menyelesaikan masalah dan konflik tanpa harus menjual drama kepentingan atau pencitraan.Di Jaman skrg harga nyawa pejuang di hargai tak mahal dari nasi bungkus,banyak pejuang yang mempertahankan tanah lahirnya di bunuh perlahan.Rakyat bukan sekedar objek bukan sekedar pelengkap dari komponen negeri ini,tapi rakyat adalah subjek penentu yang menjadi prioritas kedaulatan negara.Rakyat sekarang di tuntut mengerti pemimpin , rakyat yang melayani pemimpin bukan pemimpin yang mengerti rakyat.Jangan butuh kami hanya saat mencari kekuasaan semata , menjual nama kami dan di elu elukan saat butuh tapi setelah itu kami di tinggalkan saat duduk di kursi empuk kekuasaan.
 
Memilih itu mudah tapi bertanggung jawab atas pilihan itu yang tidak semua orang bisa melakukannya.
 
saya memang pernah salah memilih pemimpin tapi saya tidak akan bungkam melihat ketidak adilan ini,Indonesia besar dengan segala proses dan sejarah bukan sekedar mengorek borok masa lalu dan selalu menoleh kebelakang tapi terdiam saat serangan di depan.
 
dan saya berpikir ciri ciri kiamat tidak hanya matahari terbit di sebelah barat,tapi ciri ciri kiamat adalah ketika adalah media pemberitaan di kuasai kepentingan politik . saya dulu sempat menjadi Jurnalis RI 1 dan banyak belajar dari berbagai pintu dan berbagai sisi narasumber untuk mengetahui dari sekedar ilmu katanya,saya tidak merasa diri saya benar namun saya berusaha untuk jujur kepada diri saya sendiri dan dunia dan bertanggung jawab kepada Tuhan YME
 
Saya sadar tidak semua orang menyukai tulisan ini tapi saya mengutarakan keberanian , tangisan dan kejujuran sbg anak negeri yang kagum dan bangga Indonesia memiliki sosok Prabowo Subianto
 
Saya belum pernah bertatap muka dengan bapak , pada waktu ulang tahun Gerindra di Ragunan saya datang namun bapak ada di Bali dan saya ketemu saudara bapak,Pak Hasyim saya menyampaikan salam,rindu agar bapak selalu sehat dan bahagia dan Tuhan selalu memberikan semangat
 
Saya yakin bapak tidak akan tinggal diam untuk melihat kegaduhan negeri ini,seperti saya mengutip tweet bapak di 18 Mei
 
Rame ing gawe, sepi ing pamrih. Pendekar sejati berbuat untuk orang banyak, untuk negara, tidak untuk diri sendiri
 
tetaplah menjadi bintang dan obat untuk rakyat Indonesia . buka kan jalan untuk anak anak Indonesia mengejar mimpi dan mewujudkan cita cita mereka . Jangan pernah menyerah pak . Jangan pernah putus asa tetaplah tangguh . sembari menulis ini saya mau sedikit curhat tentang pengertian makna demokrasi , yang memang negara ini negara demokrasi tapi banyak aktiv*s demokrasi yang susah menerima perbedaan,itu sangat menyeramkan pak frown emotikon mengungkapkan kekecewaan dgn pemerintahan,di tangkap,saya rasa emosi penyampaian dlm menyampaikan pendapat itu tidak ada takaran perbedaan karakter dan isi kepala dan ucapan tapi apakah lebih nista kami yang bersuara di banding merek yang koruptor dan perampas hak kami . saya memang banyak menyadari banyak anak muda yang masih banyak belajar termasuk saya,tapi bukan berarti ketika salah mereka langsung di hakimi,generasi muda bukan ancaman generasi muda butuh ruang berlari,berteriak,belajar di tanah lapang yang luas untuk mengekspresikan diri untuk proses pendewasaan dan menemukan jati diri.perbedaan pendapat bukan untuk melemahkan tapi sebagai pelengkap untuk memberikan kekuatan.saya pernah salah,saya pernah jatuh tapi bukan berarti itu saya jadikan alasan untuk berhenti mencari kebenaransaya berdoa agar negara Indonesia menjadi negara yang penuh kasih,toleransi dan berpegang teguh untuk saling menguatkan dengan mewujudkan mimpi “Pancasila”
 
dan sebagai generasi muda tidak di pungkiri 5 atau 10 tahun lagi generasi muda yang akan menjadi penerus dan menjadi pemimpin di negera ini.setiap anak negeri mempunyai idola dan panutan untuk bersuara menyampaikan pendapat,selama pernyataan itu bisa di pertanggung jawabkan dan saya punya alasan banyak bagaimana saya mengidolakan Sosok Prabowo Subianto !!!! tetaplah setia dengan Indonesia tetaplah setia dengan rakyat , wujudkan Indonesia sbg MACAN ASIA .saya sayang bapak dan mengharapkan keajaiban Tuhan menyertai Bapak agar bisa menjadi Presiden Negara Indonesia .
 
Hormat Saya
Isanti Chandra# Jakarta,31 Oktober 2015 [onlineindonews]
]]>
Teman Ahok di Trisakti: Waktu Kita Demo Tahun 1998, Lu Dimana Hok? http://www.eramuslim.co/suara-kita/suara-pembaca/teman-ahok-di-trisakti-waktu-kita-demo-tahun-1998-lu-dimana-hok.htm Wed, 04 Nov 2015 00:30:38 +0000 http://www.eramuslim.com/?p=116301 demo trisaktiEramuslim.com – Gubernur DKI Jakarta hasil muntahan Jokowi, Ahok, mengeluarkan peraturan gubernur yang melarang orang berdemonstrasi kecuali di tempat-tempat yang Ahok pilihkan, antara lain di Monas. Kontan, peraturan tersebut ditentang banyak pihak.

Salah satunya dari mantan aktivis 1998, yang satu almamater dengan Ahok, Universitas Trisakti, yakni John Muhammad. Lewat note di akun Facebook-nya, John menulis semacam surat terbuka kepada Ahok pada Selasa ini (3/11), yang dengan cepat menjadi viral di media sosial internet. Berikut catatan John yang ia beri tajuk “Tanda Ahok Ingkari Kemerdekaan Kita” atau disingkat TAIKK tersebut, tanpa kami sunting:

Hok, gua nulis ini karena gua peduli. Apalagi, kita sama-sama satu almamater. Saling mengingatkan itu perlu. Btw, sori ya, kalo gua pake bahasa begini ke elu. Ini terpaksa. Lu boleh cek semua tulisan gua, kalo gua sebelonnya kaga pernah menulis dengan bahasa seperti ini.

Gua gunain bahasa ini karena inget nasihat teman. Dia bilang begini ke gua: “John, dalam komunikasi itu penting untuk memilih bahasa. Kamu tidak bisa memaksakan berbicara dalam bahasa akademisi pada kelompok tertentu. Begitu pula sebaliknya.” Jadi, gua terpaksa nih pake bahasa begini dengan tujuan supaya lu ngerti.

Sempet kepikir juga untuk nyelipin kata-kata: t**k, bodo amat dan kata-kata lain yang biasa lu gunain selama ini, tapi kata gua kaga perlu deh. Biar elu aja yang kayak gitu. Gua mah kaga bisa.

***

Ok. Langsung aja ya. Gua nanya nih ma elu, hok. Lu pernah demo ga? Waktu 1998, lu ikutan bantuin kita demo ga? Karena lu senior gua di Universitas Trisakti, gua nanya lagi, nih. Waktu kita lagi repot belajar dan membangun demo, sampe adik-adik kita mati, terus sampe kita nginep di MPR/DPR, lu dimana, hok? Jujur deh lu jawab.

Maksud gua nanya gini, biar lu inget dan paham kalo semua demonstrasi yang gua sebutin itu, semuanya ngelanggar aturan. Mulai dari ngomongin politiknya dilarang, mimbar bebasnya dilarang, demonstrasinya yang dilarang, long-marsnya dilarang dan semuanya itu kaga ada yang kaga dilarang. Sampai otopsi pun dilarang. Intinya, kita semua bisa sampai ke hari ini karena ada unjuk rasa yang ga ngikutin aturan di jaman itu. Termasuk elu jadi anggota DPR, Bupati, Wakil Gubernur dan Gubernur karena itu, bro!

Emang sih waktu itu ada UU Nomer 9/1998 tentang Kemerdekaan Menyatakan Pendapat di Muka Umum – yang dibikin jaman BJ Habibie. Tapi apa respon kita waktu itu? Kaga peduli, coy.

Malah, gua inget bener, waktu kita demo Istana Negara supaya Habibie segera ngadilin Soeharto (2 Desember 1998). Temen-temen gua sampe lompat pager Istana. Sementara temen-temen gua yang lain ngedemo rumahnya Soeharto! Apa hasilnya? Seminggu kemudian, Soeharto untuk pertama kalinya dipanggil Kejaksaan Agung (9 Desember 1998). Emang sih, pemeriksaannya basa-basi. Tapi, segitu aja kita udah seneng banget. 

Jadi asal lu tau aja. Sampai hari ini, itu UU kaga pernah kita peduliin. Kenape? Karena itu UU katrok, hok. Katro sekatronya!

Dari pemilihan lokasi, lu bisa liat UU itu lebih melindungi (bangunan/simbol) negara ketimbang melindungi ekspresi warga. Soal pemberitahuan lagi. Kalo hari ini, Novel Baswedan mau dijemput paksa masak kita kudu nunggu 3 hari, baru boleh belain dia di KPK? Emang lu pikir demo pasti urusannya tolak-menolak doang? Makna “pemberitahuan” di UU itu juga berkali-kali diselewengkan di lapangan sebagai “permohonan ijin”, sehingga justeru mempersulit orang untuk demo. Lu bayangin aje ya, kalo kita dulu kudu jujur mau ngasih ayam betina ke Jaksa Agung (24 November 1998), mana bisa kita dikasih masuk?

Dengan segala masalah itu, eh elu malah jadiin UU ini sebagai rujukan untuk Pergub!

Nah, gua minta lu kaga bawa-bawa soal ketertiban. Karena gua jadi perlu nanya lagi nih. Ketertiban yang kaya gimana, hok? Yang kaya jaman Orba? Atau yang kaya Singapura? Aje gile lu, hok. Yang bener aje. Justeru, kebebasan berekspresi inilah yang membuat kita bangga dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya.

Jadi hok, jangan segala jam-lah lu atur-atur, soal tempat dan urusan bising lu atur-atur. Orang demo tuh kaga mungkin subuh-subuh, lagi. Apalagi di Hari-hari Keagamaan. Kalo ada yang demo sampai malem, itu emang udah diniatin pastinya. Biasanya, mereka emang pengin nginep. Lagian yang doyan demo ampe malem dan seneng bentrok, udah jarang. Sebagian gembongnya udah pada jadi anggota DPR dan komisaris, keknya.

Nah, soal tempat. Lu kasih kita cuma tiga: Parkir Timur Senayan, DPR/MPR dan Silang Selatan Monas. Ini ga masuk akal dan cule. Masak kantor lu kaga boleh dijadiin target demo? Kejaksaan Agung, Bunderan Hotel Indonesia, Kantor Freeport, APP, Sinar Mas, Wilmar, Artha Graha dan lainnya kaga boleh juga? Ga sekalian aja, lu taruh kita di Kep. Seribu? Ga boleh juga ya? Soalnya, kita malah ganggu proyek reklamasi lu ya?

Semua bangunan kecuali rumah sakit dan tempat ibadah, kata gua sih sah untuk didemo. Emang lu kaga pernah bayangin kalo buruh pelabuhan pada mogok kerja? Emang itu bukan demo?

Soal kebisingan lain lagi nih. Ngomong-ngomong, lu tau ga 60 dB itu setara apa? Setara orang normal ngobrol, bro. Setara suasana dalam rumah. Atau dibawah ramenya suasana kantor (70 dB) atau suara kemacetan parah di jalan (90 dB). Gua jadi penasaran, demo yang kayak gitu demo apaan, hok?

Hok, tahun 1999, gua pernah bikin tulisan judulnya “Mendemonstrasikan demonstrasi.” Isinya a-z soal merancang demonstrasi. Di situ gua bilang kalo demonstrasi adalah seni menyampaikan pendapat. Tujuannya simpel. Supaya aspirasi dalam demonstrasi itu dipenuhi dan dipertimbangkan. Sudah tentu, kita yang demonstrasi pasti nyari perhatian dan narik simpati.

Ketika demo, kita tuh pasti bersiasat bagaimana cara terbaik untuk diperhatiin dan didengarkan. Kita pengin setiap orang mengetahui pesan kita. Jadi mustahil, kalo lo mau batasin aktivitas demonstran secara kaku.

Lagian, demo tuh macem-macem bentuknya. Ada yang bagi-bagi stiker di jalan, ada yang nginep bikin tenda keprihatinan dan ada yang memang niatnya nerobos barikade penjagaan. Kita yang demo tau kok konsekuensinya. Polisi pun udah paham mana yang demonya reseh, bikin deg-degan sampai yang kalem.

Jadi kaga usah lu ajarin polisi soal beginian. Karena kalau udah masuk kriminal, aturan di KUHP kan bisa dipake. Justeru lo kudu nekenin ke polisi supaya ga pakai senjata api dan senjata tajam dalam menangani demonstran.

Eh, ini malah di Pergub itu lu ngebolehin tentara ikut-ikutan. Wah, ini mah beneran Orde Baru!     

Lu lagi pake alesan demo bikin macet. Itu alesan klise, hok. Macet mah itu masalah gimana elu ngurus transportasi massal ajah. Itu makanya gua nolak proyek 6 ruas jalan tol, karena justeru nambah kendaraan pribadi. Itu kan solusi gua buat elu. Tapi ya itu, lu kaga mau denger.

Dan elu, hok jangan juga pake alesan ganggu pembangunan ya. Kaga ada urusannya tuh, investasi ma demonstrasi. Asal tau aja, jaman kita pada demo dari yang tiap hari sampe seminggu sekali, rupiah berkisar Rp. 8000,- s/d Rp. 8500,- kok!

Buat gua, tertib dan keteraturan kepada rakyat itu cuma cermin, hok. Cermin dari pengurusnya (pemerintahnya). Justeru, demonstrasi adalah indikator bahwa dialog antara warga dan pengurusnya sedang berlangsung secara dinamis. Jadi, kalo lu mulai kebanjiran demonstrasi, justeru lu kudu ngaca dan evaluasi. Karena pasti deh ada yang kaga bener. Entah itu, “kaga bener” yang dateng dari luar maupun “kaga bener” yang dateng dari dalem kepengurusan elu.

***

Sekarang, gua malah jadi mikir. Jangan-jangan lu emang kaga demen ma demonstrasi ya? Wah, kalo udah begini, lu kudu introspeksi. Jangan-jangan lu punya sindrom diktator, otoriter, lalim dan segala turunannya? Amit-amit, hok.

Tapi, kalau bener lu begitu orangnya, tenang aja, hok. Gua ga bakal jatuhin atau mundurin lu sekarang ini. Gua kaga mau ngikutin taktik lu: main korban-korbanan atau sengaja dijatuhin biar nanti dikenang. Kalau emang bener lu begitu orangnya, mending gua biarin lu lapuk sampai pilkada taun depan.

***

Hok, jelas ya. Gua ga bakal peduliin Pergub No. 228/2015 lu itu. Jadi terserah elu. Mau lu cabut bagus. Ga lu cabut pun pasti gua cuekin. Ini namanya civil disobedience: pembangkangan sipil. Ngarti?

Gitu aja ya, hok. Semoga tulisan berjudul T. A. I. K. K. ini bisa lo pahamin. (ts/pribuminews)

]]>
Dilanda Azab, Indonesia Alami Kiamat Sugro Akibat Salah Pilih Pemimpin http://www.eramuslim.co/suara-kita/suara-pembaca/dilanda-azab-indonesia-alami-kiamat-sugro-akibat-salah-pilih-pemimpin.htm Mon, 26 Oct 2015 02:30:00 +0000 http://www.eramuslim.com/?p=115741 JokowiEramuslim.com – Apa kesalahan rakyat Indonesia harus menerima ujian yang begitu berat? Berupa “azab” yang tak terperikan. Mungkin ini bisa menjadi renungan bagi rakyat. Setiap menjelang malam. Saat akan masuk ke peraduan, dan sebelum lelap tidur, bisa melakukan “muhasabah”.
Apa yang salah? Harus menerima ujian berupa “azab”. Betapa beratnya ujian ini. Semenjak Jokowi menjadi presiden. Sudah berapa kali musibah dan bencana dialami bangsa ini? Sudah tak terhitung. Gunung meletus. Seperti di Sinabung, Merapi dan tempat lainnya. Banjir bandang. Jatuhnya pesawat terbang. Kapal tenggelam, kecelakaan dan kabut asap. Tak bisa dirinci lagi. Renungkan.
Adakah bangsa ini tidak mendapatkan ridho atas pilihannya? Memilih Jokowi? Rakyat harus menanggung beban begitu berat sekarang?
Semua impian sudah pupus. Semua harapan sudah tamat. Semua cita-cita sudah kandas. Semua optimisme tak ada lagi. Tak ada yang bersisa. Memilih Jokowi berarti memutuskan semua impian, harapan, cita-cita, dan optimisme.
Masa depan menjadi gelap. Seperti langit Indonesia yang tertutup kabut asap yang pekat. Tak nampak lagi cahaya kehidupan bagi masa depan rakyat semua sirna. Pupus. Janji-janji yang pernah disampaikan oleh Jokowi tak ada yang terbukti dalam realita kehidupan. Berbeda antara janji dengan realita kehidupan rakyat.
Setahun pemerintahan Jokowi yang ada hanyalah musibah, bencana, kepahitan, penderitaan, kemlaratan, dan tanpa masa depan. Semua aspek kehidupan tak ada yang dapat memberikan rasa optimisme. Hanya orang-orang yang menjadi “kroni” atau “pendukungnya”, yang memang bukan orang “waras” masih bisa mengacungkan “jempol”. Karena naif.
Jokowi bukan hanya tidak mampu mengelola pemerintahan. Jokowi bukan hanya tidak bisa mengarahkan para menterinya. Jokowoi bukan hanya tidak memiliki visi dan misi dalam mengelola negara. Kecuali Jokowi hanya bisa “blusukan” yang sekarang tidak dapat memecahkan masalah apapun yang dihadapi negara.
Setahun Jokowi sudah menampakan dengan gamblang dan terang-benderang, bahwa bekas Walikota Solo ini, orang yang sangat lemah.
Tidak jelas posisinya diantara kepentingan para menterinya, dan para pemimpin partai politik. Di mana Jokowi posisinya, diantara Luhut Panjaitan, Rini Sumarnno, Rizal Ramli, Jusuf Kalla, dan Megawati? Siapa yang sejatinya menjadi presiden? Indonesia seperti negara tanpa presiden atau “outo pilot”.
Sekarang rakyat harus menanggung “azab” akibat pilihannya itu. Tak tanggung-tanggung “azab” yang harus dijatuhkan kepada bangsa dan rakyat. Berupa kemarau panjang, kebakaran hutan, dan kabut asap. Sangat menyesakan. Hidup di Indonesia seperti berada di dalam neraka “jahanam”. Sungguh sangat luar biasa.
Lihatlah apa yang terjadi di kota Kota Palangka Raya, Sampit, Banjarmasin, Sumbar, Pekanbaru, Jambi, Palembang, dan sejumlah kota lainnya. Jutaan orang hidup dalam kabut asap yang sangat tebal. Tak bisa menghirup udara segar. Berbulan-bulan. Matahari tak nampak. Karena selalu diselimuti kabut asap yang pekat.
Indonesia menghadapi “DISASTER” (alias kiamat sugro). Entah kapan bakal berakhir. Tak ada yang bisa memprediksi. Satu-satunya hanya mengharapkan pertolongan Pemilik Alam Semesta, berupa hujan. Pemerintah Jokowi sudah tidak sanggup lagi. Harus “mengemis” kepada asing untuk memadamkan api dan asap.
Kota-kota seperti Pekanbaru, Jambi, Palembang, Samarinda, Sampit, Palangkara, di mana api dan asap sudah merambah sampai ke Papua. Wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawasi, dan sebagian Papua, sudah menjadi daerah “bencana”. Udara nampak kuning. Matahari diselimuti asap, dan mensemburatkan warna kuning. Tragis. Semua menjadi gelap. Seperti gelap kehidupan.
Bayangkan. Penuturan seorang warga yang tinggal disebuah hotel, mengatakan, ketika bangun tidur merasa sangat sakit dan sesak nafas. Hari itu polusi udara mencapai 2.600 (angka 350 sudah dianggap ambang batas yang berbahaya). Tapi, polusi udara sudah mencapai 2.600!
“Saya mendapat tidak oksigen yang cukup. Saya seperti tercekik, saya panik, saya menyadari hal inilah yang dirasakan oleh jutaan keluarga di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua yang harus menghirup dan terpapar kabut asap siang malam, dan tidak mendaptkan masker yang layak untuk melindungi mereka”, tuturnya.
“Sebagian orang hidup dengan kabut asap tiap hari. Bagi saya, itu mimpi buruk. Saya tidak tahu bagaimana orang-orang menghadapinya.”
“Ada banyak momen yang mempengaruhi saya. Saya bertemu dengan laki-laki yang sudah sangat sakit karena asap, tetapi tetap bekerja karena tidak ada yang mencari uang untuk keluarganya”, tuturnya..
“Ada banyak relawan yang berjuang melawan api tanpa bayaran. Juga para pemadam kebakaran yang walau kewalahan, tetap melawan api sepanjang hari dan bahkan tak punya air untuk diminum”, tambahnya.
“Ada Slamet, tukang bangunan yang tak mendapat pekerjaan selama musim kabut asap pekat, dia menjaring ikan di selokan yang airnya kotor di Palangka Raya dan mengatakan ‘ikan yang kotor masih lebih baik dari pada tidak ada ikan sama sekali.’ Ada keluarga yang kehilangan bayinya karena penyakit terkait asap…”
“Di malam dan pagi hari, mengenang pengalaman-pengalaman itu, saya menangis karena kesedihan itu. Dan karena saya sangat tersentuh dengan kekuatan dan semangat orang-orang di Kalimantan Tengah menghadapi asap”, tuturnya.
Belum lagi keluarga-keluarga di daerah Jambi, Pekanbaru, Palangkaraya, Sampit, dan tempat lainnya, mereka harus meninggalkan kampung halamannya, tak dapat lagi bertahan. Akibat kabut asap yang begitu pekat. Membahayakan kehiudupan mereka. Mereka harus pergi. Berjalan kaki. Sungguh menyedihkan.
Inilah akibat rakyat salah pilih. Rakyat yang memilih Jokowi. Setahun pemerintahan sudah mengakibatkan terjadinya “disaster’.
Bangsa dan rakyat harus menghadapi bencana. Bencana krisis ekonomi, akibat kebijakan Jokowi yang salah. Sekarang rakyat harus menghirup asap. Akibat kebakaran hutan dan asap yang begitu pekat. “Azab” dari Pemiiik Alam Semesta itu, sudah impas akibat pilihan rakyat. Karena rakyat melihat kemungkaran dan ketidak adilan, semua “tutup mulut” alias diam. [ts/voiceofislam]
]]>
Surat Terbuka Seorang Ibu Korban Asap di Riau Kepada Jokowi http://www.eramuslim.co/suara-kita/suara-pembaca/surat-terbuka-seorang-ibu-korban-asap-di-riau-kepada-jokowi.htm Fri, 09 Oct 2015 07:27:52 +0000 http://www.eramuslim.com/?p=114465 korban-asap-riauEramuslim.com – Inilah sebuat surat Terbuka kepada Presiden Joko Widodo dari seorang bernama Afni Zulkifli, Ibu satu anak berusia 3,5 Tahun. Sangat gamblang memaparkan hal asap yang terjadi di Riau alias Tanah Lancang Kuning. Selamat membaca:
Jangan sampai korban asap terfitnah hujan sesaat. Yakinkan saya, bahwa ini bukan genosida.
——
Selamat pagi Pak Jokowi, gimana tidurnya tadi malam di Sumatera? Semoga segar ya Pak. Soalnya hujan turun berkali-kali. Luar biasa! Rakyat Riau yang jadi korban asap, setelah dua bulan lebih, akhirnya dapat melihat matahari lagi. Kedatangan Bapak, lebih ‘makbul’ mengalahkan jutaan doa kami.Pak, mumpung udara lumayan segar, saya ingin sedikit bercerita. Saya lahir di sebuah kota kecil, Siak namanya. Dulu saat saya SD, kami diajari bahwa Indonesia hanya punya dua musim, panas dan hujan. Saat panas akan terjadi kemarau, sedangkan bila hujan akan ada ancaman banjir. Tapi sejak menginjak bangku SMP, kami mengenal musim lain lagi, namanya musim kebakaran hutan. Ancamannya asap akan ada dimana-mana. Dan itu kisah 17 tahun lalu Pak.Selama 17 tahun juga, kami tak pernah merasakan 365 hari udara segar. Karena akan ada masa, dimana sinar matahari bahkan tak bisa tembus menyinari tanah kami. Semuanya mendadak akan terlihat seperti negeri di atas awan. Padahal aslinya asap.

Dulu yang kami tahu, bila ada lahan terbakar, hanya akan dipadamkan secara gotong royong. Tetangga datang buat menolong. Tapi itu duluuuuu sekali Pak, saat musim asap hanya muncul sesaat. Karena sejak beberapa tahun terakhir, bahkan tahun ini, asap semakin menjadi-jadi. Tahun paling terngeri, karena berbulan-bulan asap tak mau pergi. Ia betah di negeri kami.

Jadi Pak, sebenarnya dulu negeri kami tak begini. Tanyalah sejarah, kenapa bisa begitu?

Pak, apakah rakyat Indonesia tahu, kalau sekarang ada istilahnya water bombing atau bom air. Cara kerjanya, helikopter akan membawa semacam tabung air yang digantungkan di bawah heli. Lalu helikopternya terbang ke sumber air, mengangkut air dan menyiramkan air di titik api yang ada.

Kira-kira, masyarakat Indonesia tau gak ya, betapa sulitnya cara kerja helikopter itu. Sang pilot harus bolak balik, dari sumber air ke titik api, berkali-kali, dengan gerak yang cukup terbatas. Karena harus menjaga jarak pandang dan ketinggian dari batas panas. Tahu gak ya, ketika api membara dan asap kian pekat, helikopter itu tak bakal dapat terbang. Jadi pada waktu tertentu, sebenarnya ribuan titik api itu hanya dibiarkan begitu saja?

Meski begitu Pak, saya menaruh hormat pada tim pemadam. Khususnya yang di darat. Mereka pahlawan kami, karena berjibaku mempertaruhkan nyawa, demi memadamkan titik api tiada henti. Saya kadang terharu Pak, berbulan-bulan anggota Manggala Agni, Polisi dan TNI, terjun berjibaku melawan api. Kadang mereka hanya tidur di tenda, meninggalkan anak dan istri. Mereka di garda terdepan sumber bencana.

Tapi kira-kira mereka tahu gak ya Pak, jika jumlah titik api yang mereka padamkan itu ribuan, dengan luasan ratusan hektar? Satu dipadamkan, masih ada ribuan titik api lainnya membara. Kasihan ya Pak mereka.

Perihal heli tadi yang bakal tak bisa terbang pada waktu tertentu, apakah masyarakat Indonesia tahu, bahwa ‘diamnya’ heli tetap ada biayanya. Karena mayoritas helikopter untuk mengatasi bencana, ternyata bukanlah milik kita. Melainkan milik asing yang disewa. Pilot dan semua kru di dalamnya, rata-rata para bule yang berasal dari perusahaan sewa menyewa helikopter. Dan BNPB mengakui, bila harga sewanya mencapai USD6.000 atau sekitar Rp84 juta, per jam! Mahal banget ya Pak. Gak kebayang deh, andai dalam sehari disewa 5 jam saja, artinya Rp420.000.000. Dikali tiga bulan sejak kebakaran kian meluas. Lalu dikali lagi bertahun-tahun sejak kebakaran lahan dan hutan. Wuiiiiiih, itu dibayar pake duit semua kan Pak, bukan daun toh? *ngiler saya bayangin fulusnya.

Tapi itu belum seberapa, ada lagi nih istilah modifikasi cuaca. Cara kerja pastinya, silahkan browsing sendiri di Mbah Google. Secara sederhana, berton-ton garam, akan diangkut menggunakan pesawat jenis Cassa, lalu garam itu ditaburkan di atas langit suatu daerah, dengan tujuan agar terkumpul awan yang bisa mendatangkan hujan. Cara kerjanya juga suliiiiiiit sekali. Karena harus benar-benar terprediksi, bila tak ingin hanya menabur garam sia-sia. Banyak pihak harus dilibatkan dalam misi ini.

Kira-kira, rakyat Indonesia tahu gak ya, kalau modifikasi itu muahaaaal sekali. BNPB melansir, untuk 90 hari kerja saja, dibutuhkan anggaran hingga Rp40 miliar. Artinya dengan kalkulasi sederhana, dalam sehari dibutuhkan biaya modifikasi cuaca bernilai ratusan juta, hanya untuk ‘membuang’ garam. Luar biasa.

Dan untuk dua kegiatan itu, BNPB tahun ini saja, sudah menyiapkan dana siap pakai sebesar Rp385 miliar. Itu kabarnya hanya di Riau saja (tolong koreksi bila saya salah, maklum Pak, saya copas dari media online yang ada aja). Dan bila masuk situasi tanggap darurat seperti sekarang, katanya biaya yang tersedia bahkan sampai ‘tak berbatas’….Ck..ck…ck…

Lalu Pak Jokowi, tahu gak ya kira-kira rakyat Indonesia, bahwa dana yang luar biasa dahsyat itu, hanya ada untuk penanggulangan saja. Coba deh kita buka-bukaan, tanya pada Kementrian terkait dan para kepala daerah, berapa anggaran yang tersedia untuk upaya pencegahan bencana? Berapa biaya mencegah rakyat dan perusahaan agar tidak membakar saat membuka lahan? Berapa biaya membuat kanal-kanal, mencegah titik api tidak makin membesar di lahan perkebunan? Berapa biaya sosialisasi, mencegah anak-anak tak ngotot berkeliaran saat asap datang? Berapa biaya untuk rakyat yang penyakitan, khususnya Lansia dan Ibu Hamil, mencegah korban berjatuhan dan mencegah bayi-bayi lahir idiot. Berapa biaya pencegahan bencana di negeri kami sebenarnya?

Logika bodoh saya sebagai rakyat nih Pak, jika anggaran untuk penanggulangan asap tiap tahun terus meningkat, dengan nilai yang juga luar biasa dahsyat, artinya bencana ini sudah diprediksi jauh sebelum bencana benar-benar terjadi. Karena yang namanya anggaran dalam jumlah besar, pasti harus melalui usulan, pembahasan di DPR dan segala tetek bengek birokrasi serta drama politisasi lainnya.

Semoga logika saya benar-benar bodoh ya Pak. Karena jika ternyata kebodohan itu benar adanya, tentu wajar jika saya katakan, ini bukan lagi bencana, tapi genosida.

Menurut Statuta Roma dan Undang-Undang nomor 26 tahun 2000 tentang Pengadilan HAM, genosida ialah Perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk menghancurkan atau memusnahkan seluruh atau sebagian kelompok bangsa, ras, kelompok etnis, kelompok agama dengan cara membunuh anggota kelompok; mengakibatkan penderitaan fisik atau mental yang berat terhadap anggota kelompok; menciptakan kondisi kehidupan kelompok yang menciptakan kemusnahan secara fisik sebagian atau seluruhnya; melakukan tindakan mencegah kelahiran dalam kelompok; memindahkan secara paksa anak-anak dalam kelompok ke kelompok lain.

Pak, saya aja ngeri sendiri membaca definisi genosida, yang memang beberapa diantara poinnya sudah kami alami. Meski cuma sebagian kecil.

Seperti pada poin ini, dengan logika bodoh dan naif saya:

– Untuk menghancurkan atau memusnahkan seluruh atau sebagian kelompok. (Sebagian kami sudah berjatuhan jadi korban, baik materi maupun nyawa)

– Menciptakan kondisi kehidupan kelompok yang menciptakan kemusnahan secara fisik sebagian atau seluruhnya. (Sebagian kami sudah didera penyakit asma akut, fisik lemah bertahun-tahun menghirup asap)

– Melakukan tindakan mencegah kelahiran dalam kelompok; memindahkan secara paksa anak-anak dalam kelompok ke kelompok lain.
(Sebagian kami, melahirkan anak-anak yang terancam idiot. Anak-anak kami juga dipaksa untuk tidak sekolah, tidak keluar rumah. Terkurung asap)

Mudah-mudahan saja itu cuma logika bodoh saya. Maklumlah, 17 tahun itu bukan waktu yang sebentar. Saya merasakan asap sejak masih perawan hingga jadi Ibu satu anak. Mungkin otak saya kini sudah mulai rusak. Karena semua ahli kesehatan sepakat, bahwa asap bisa sampai meracuni otak manusia, bahkan sudah menggangu sejak masa pertumbuhan janin dalam kandungan.

Ancaman bayi lahir idiot di negeri kami besar Pak. Belum lagi pendidikan yang lumpuh berbulan-bulan. Maaf Pak, kecurigaan saya wajar kan? Jika tak wajar, tolong jangan tangkap saya ya Pak. Kasihan nanti Hanina, putri kecil saya itu. Karena Bundanya cuma bertanya dengan logika sederhana ala rakyat jelata.

Tapi ini pertanyaan serius Pak, apakah dengan ikhtiar bom air dan modifikasi cuaca itu, ada jaminan bencana asap di negeri kami bisa hilang selamanya? Nyatanya asap cuma akan hilang sesaat saja. Nanti pasti akan muncul kebakaran lagi, asap lagi, dan pasti akan tersedia dana lagi. Jika begitu, sungguh betapa mahalnya udara segar di negeri kita ya Pak? Negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi.

Saya cuma khawatir Pak Jokowi, udara segar yang turun dari hasil hujan buatan, akan membawa fitnah pada kami, jutaan rakyat di negeri bencana. Serius Pak, di balik rasa syukur turunnya hujan (terlepas buatan atau asli), kami jadi khawatir bila nantinya kami disebut lebay.

Saat Bapak dan jajaran menteri ke Riau, lalu disambut turunnya hujan, pasti partikel asap akan jauuuuuuuh berkurang. Saya khawatir, Menteri Kesehatan Bapak yang ‘bibirnya tipis itu’ akan koar-koar berkata ‘Tuh kan, apa saya bilang, asapnya di sana gak berbahaya. Buktinya saya bisa balik Jakarta masih sehat wal afiat’. Saya juga khawatir, Bapak pun akan berpikir yang sama.

Yang lebih saya khawatirkan lagi, tentu rakyat Indonesia akan mengatakan ‘Alhamdulillah, bencana di Riau sudah berlalu’. Tapi tahukah kira-kira mereka Pak, bahwa hujan yang turun itu, setiap tetesnya, adalah reinkarnasi uang hasil pajak mereka?! Tahukah mereka, bahwa kami sudah sering sekali merasakan hujan, tapi setelahnya kembali merasakan asap pekat, bahkan jauuuuuh lebih pekat dari sebelumnya. Kira-kira mereka tau gak ya soal itu Pak?

Tahukah kira-kira rakyat Indonesia, kalau hujan sesaat bukan berarti akan menghilangkan titik api selamanya. Karena mayoritas lahan yang terbakar, adalah lahan gambut dengan tingkat kedalaman 5 hingga 15 meter. Api disiram dari atas, sesaat memang padam, tapi sumber api sesungguhnya justru ada di kedalaman lahan gambut itu. Api itu tidak menyala, tapi membara! Tetap membara!

Dan air yang disiram sesaat, hanya akan menambah asap kian pekat. Saat Bapak Presiden dan rombongan pulang nanti ke Jakarta, kami masih akan termengap-mengap karena asap. Kira-kira masyarakat Indonesia, percaya gak ya dengan penjelasan sederhana saya? Maklumlah Pak, saya bukan siapa-siapa. Hanya rakyat biasa.

Saya khawatir Pak, nanti rakyat Indonesia mengatakan saya dan jutaan rakyat Riau tidak tahu terimakasih, tidak pandai bersyukur. Dikasi hujan dicurigai, tak dikasi hujan pemerintah dicaci maki. Duh, maafkan saya Pak. Maafkan, karena kami rakyat Riau tidak bermaksud begitu.

Maklumlah Pak, ini bencana sudah 17 tahun. Wajar toh kalau kami sudah bosan dikibuli, dikasi janji-janji bakal tak ada asap lagi. Bapak akhir tahun lalu saja berkata, bahwa mengatasi bencana asap itu mudah saja dan September 2015 ditargetkan semua asap lenyap. Tapi buktinya, malah di bulan yang bapak janjikan itu,bencana asap menjadi yang paling terparah sepanjang sejarah. Terpaksa deh kami gigit dua jari!

Jadi wajar toh Pak, kalau yang kami inginkan bukan lagi bom air atau hujan buatan. Kasihan Pak, jika pajak yang dibayarkan rakyat Indonesia, hanya habis untuk bencana yang disengaja. Karena BNPB mengatakan bahwa 99,9 persen lahan kebakaran, bukan karena terbakar tapi DIBAKAR. Rasanya sungguh tidak adil Pak, jika akibat ulah sekelompok orang, dosanya harus dicicil seluruh rakyat negeri ini. Titik api luar biasa, asap dimana-mana, penjahatnya mana?

Jadi Pak, yang kami butuhkan solusi. Sekonkrit-konkritnya! Penyelesaian masalah dari hulu hingga ke hilir. Agar tahun depan, kami tak lagi menghirup asap. Agar kami terhindar dari dosa, mencurigai negara sedang melakukan genosida. Jujur Pak, saya sungguh takut dosa.

Saya juga takut Pak, jika nanti terlalu banyak doa dari rakyat untuk anda. Karena sebuah hadist mengatakan, doa orang yang terdzolimi tidak ada pembatas antara doanya dengan Tuhan. Bapak gak takutkah? Mengingat Bapak pemimpin tertinggi di negara ini. Kalo saya mah takut Pak. Makanya saya cuma berani jadi rakyat, gak berani jadi Presiden. Pernah ada sih Pak yang sarankan saya jadi Walikota atau Bupati, tapi sekali lagi Pak, saya tahu diri.

So, selamat menikmati Sumatera ya Pak Jokowi. Gimana rendang Padangnya? Mudah-mudahan enak ya Pak. Mohon nanti kalo pulang, asapnya dibawa serta ke ‘Jakarta’. Agar langit kami benar-benar biru dan para korban asap tak lagi termengap-mengap. Salam untuk Bu Menkes ya Pak. Terimakasih sudah mengimpor 6 ribu masker N95. Meski saya gagal mengerti, bukankah kemarin baru saja Bu Menteri berkata, masker biasa lebih bagus dari N95. Lalu ngapain tetap diimpor sebanyak itu ya? Entahlah Pak, semakin banyak menulis, semakin banyak saya curiga, semakin pula saya berdosa.

Salam hormat saya untuk Ibu Negara. Semoga selalu sehat.

Salam
Afni Zulkifli, Ibu dari seorang putri 3,5 Tahun.
087780483113-08526399078

(ts/dimuat ulang dari pribuminews.com)

]]>
Bapak Menteri, Jika Diskotik dan Klub Malam Bisa Bebas Pajak, Mengapa Buku Yang Mencerdaskan Bangsa Tidak Bisa? http://www.eramuslim.co/suara-kita/suara-pembaca/bapak-menteri-jika-diskotik-dan-klub-malam-bisa-bebas-pajak-mengapa-buku-yang-mencerdaskan-bangsa-tidak-bisa.htm Tue, 25 Aug 2015 10:30:53 +0000 http://www.eramuslim.com/?p=111335 buku arabYang Terhormat, Bapak Menteri Keuangan, merdeka!
Salam kemerdekaan ini saya ucapkan sembari berdoa agar Bapak diberikan lautan keberkahan, rahmat dan hidayah. Saya tahu sekali, tak mudah menjadi menteri di republik yang menjadi tempat bernaung sekitar  seperempat milyar jiwa ini. Pasti Bapak menghadapi hari-hari yang sulit, penuh tekanan dengan begitu banyak belitan problem yang saling sengkarut. Semoga Bapak kuat dan terus mampu memberikan keputusan yang terbaik.

Yang Terhormat Bapak Menteri, maafkan kelancangan saya dengan ditulisnya surat terbuka ini. Tetapi, beberapa hari ini, saya benar-benar merasa gelisah. Kegelisahan itu muncul ketika saya membaca berita di beberapa media tentang diterbitkannya Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 158/PMK.010/2015.

Saya kutip beberapa paragraf yang saya baca dari Vivanews sebagai berikut:

“Pemerintah melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor: 158/PMK.010/2015 yang ditandatangani Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro pada tanggal 12 Agustus 2015, telah menetapkan sejumlah jenis jasa kesenian dan hiburan dalam kelompok yang tidak dikenai Pajak Pertambahan Nilai (PPN).”

Menurut bunyi pasal 2 ayat (1) PMK tersebut, jasa kesenian dan hiburan yang tidak dikenai Pajak Pertambahan Nilai itu meliputi semua jenis jasa yang jasa yang dilakukan oleh pekerja seni dan hiburan.  Ada pun jenis kesenian dan hiburan yang termasuk tidak dikenai PPN itu adalah, tontonan film, tontonan pagelaran kesenian, pagelaran musik, pagelaran tari, dan pagelaran busana. Selain itu, tontonan kontes kecantikan, kontes binaraga, dan kontes sejenisnya, serta tontonan berupa pameran. Jenis tempat hiburan seperti diskotek, karaoke, klab malam, dan sejenisnya juga dibebaskan dari PPN.”

Bapak Menteri… apakah betul kabar tersebut? Jika betul, sebagai seorang penulis dan juga seorang pelaku industri perbukuan, saya merasa iri, sangat iri. Mengapa hal yang sama tidak berlaku di dunia perbukuan?

Memang betul, berdasarkan PMK RI no. 122/PMK.011/2013, terdapat buku-buku yang dibebaskan dari PPN, tetapi itu hanya meliputi buku-buku pelajaran umum, kitab suci dan buku-buku pelajaran agama. Padahal, selain tiga jenis buku tersebut, masih banyak jenis-jenis buku lain. Dan, jika kita mau menelisik satu per satu, nyaris semua buku yang diterbitkan para penerbit Indonesia, adalah buku-buku yang mendidik. Jikapun ada buku-buku yang memang melulu untuk hiburan, menghibur lewat dunia aksara, menurut hemat saya tetap memberikan andil dalam pembangunan dunia literasi di negeri ini. Maka, jika PPn diskotek dan klab malam kemudian dihapus, sudah semestinya PPn untuk buku pun dihapus, untuk buku apapun.

Bapak Menteri, selain PPn yang harus dibayarkan pada setiap buku yang terjual, yang berarti akan menambah mahal harga buku, royalti penulis juga harus dipotong PPh sebesar 15%. Berapa sebenarnya kisaran royalti yang diterima penulis? Ah, tak sampai milyaran. Mencapai jutaan dalam empat bulan saja sudah bagus. Kadang ada yang hanya ratusan ribu, bahkan puluhan ribu. Sementara untuk menghasilkan sebuah tulisan, seringkali kami para penulis harus bersusah payah melakukan riset, begadang bermalam-malam, mengorbankan waktu untuk keluarga dan sebagainya.  Memang betul, di SPT yang kami buat, akhirnya kami akan mengkalkulasi seluruh penghasilan, dan jika total royalti kami kurang dari Rp 50.000.000,- setelah dikurangi Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP), akhirnya kami hanya membayar 5% saja sisa royalti dikurangi PTKP tersebut. Tetapi, yang terjadi saat ini, penerbit-penerbit langsung memotong 15% dari secuil royalti yang harus kami terima, dan kami kesulitan untuk menarik kembali sisa uang yang telanjur dipotong tersebut. Selain kami tidak tahu, prosesnya juga ribet, membuat kami akhirnya memilih mengikhlaskan saja, karena jumlahnya juga tak seberapa.

Bapak menteri, jadi penulis di negeri yang tidak ramah terhadap perbukuan itu susah. Bapak lihat, di toko-toko buku, baru beberapa bulan buku kami sudah diobral. Setiap saat orang-orang berlomba-lomba beli gadget baru, mengalokasikan ratusan ribu untuk beli pulsa, tak segan-segan membayar sejumlah uang untuk makan di restoran, tetapi, untuk beli buku saja enggan. Senangnya cari gratisan. Jika saat ini banyak penulis yang bertahan, kebanyakan karena faktor idealisme. Sebab bagi mereka, menulis adalah bagian dari proses aktualisasi diri, atau kalau dalam bahasa agamanya: ibadah.

Apakah Bapak percaya, bahwa tradisi literasi yang baik bisa membentuk bangsa ini menjadi lebih cerdas, dewasa dan beradab? Kalau iya, mari beri ruang yang leluasa agar para penulis di negeri ini bisa tetap berkarya, tanpa harus memikirkan urusan dapur yang harus tetap mengepul. Banyak cara yang bisa dilakukan, salah satunya adalah mohon hapuskan PPn buku dan PPh royalti penulis. O, ya, selain PPn 10%, PPh royalti 15%, penerbit yang menerbitkan buku-buku kami juga terkena pajak 1% dari total penghasilan bruto per bulan. Oh, betapa banyak pajak yang harus dibayarkan dari dunia perbukuan.

Maka, Pak Menteri yang budiman… jika PPnBM untuk 33 jenis barang mewah sudah dihapuskan per 9 Juli 2015  (PMK Nomor 106/PMK.010/2015), dan kini menyusul PPn untuk tempat-tempat hiburan, kami tunggu gebrakan Bapak untuk menghapus PPn buku apapun, tanpa terkecuali. Kecuali, jika bapak menganggap tas Louis Vitton dan Hermes yang biasa ditenteng para sosialita, atau emas dan logam mulia, jauh lebih murah ketimbang buku-buku yang kami tulis. Atau, jika Bapak menganggap masuk ke diskotek atau klab malam itu lebih mendidik ketimbang baca buku. Tapi, saya kira tidak! Saya tahu, Bapak insan terpelajar, dan merupakan salah satu manusia terbaik di Indonesia. Saya lebih memilih melantunkan harap manis kepada Anda.

Salam cinta damai,
Afifah Afra

(rd/intriknews)

]]>
Pernyataan Sikap FUI Atas Kebangkitan Komunis di Era Jokowi http://www.eramuslim.co/suara-kita/suara-pembaca/pernyataan-sikap-fui-atas-kebangkitan-komunis-di-era-jokowi.htm Sat, 15 Aug 2015 01:00:13 +0000 http://www.eramuslim.com/?p=110628 pkiBismillahirrahmanirrahim
Pernyataan Sikap Forum Umat Islam Terkait Bangkitnya PKI di Indonesia
Assalamualaikum wr.wb.
Mensyukuri 70 tahun kemerdekaan Bangsa Indonesia dari cengkeram penjajah colonial kafir asing sudah selayaknya bangsa Indonesia menegaskan jati dirinya sebagai bangsa yang beriman kepada Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa sebagaimana pengakuan kemerdekaan bangsa ini pada tahun 1945 adalah berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa. Implementasi rasa syukur bangsa yang beriman kepada Allah SWT Tuhan Yanga Maha Esa adalah dengan menegaskan keyakinan akan keberadaan dan kemahakuasaan Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa dan Kuasa, yang berdaulat di seluruh langit dan bumi termasuk di atas bumi Indonesia dan di bawah langit Indonesia. Oleh karena itu, sudah selayaknya seluruh umat manusia yang pandai bersyukur kepada Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa menundukkan dirinya kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa dan Kuasa,  dengan mengimani-Nya, mentauhidkan-Nya, dan mematuhi segala perintah/larangan-Nya.
Terkait dengan benyaknya indikasi bangkitnya kembali PKI (Partai Komunis Indonesia) yang memiliki ajaran yang menentang keberadaan dan kemahamakuasaan Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa, maka Forum Umat Islam (FUI) sebagai forum silaturrahim dan koordinasi pendapat, sikap, dan langkah para pimpinan ormas dan lembaga Islam di Jakarta memandang:
Pertama, PKI dengan ajaran penolakan keberadaan dan kemahakuasaan Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, yakni ajaran atheism yang diembannya adalah bertentangan dengan keyakinan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa yang menjadi dasar Negara NKRI.
Kedua, PKI dalam lintasan sejaran terbentuknya NKRI dan perjalanannya hingga hari ini telah terbukti melakukan pengkhianatan dan pemberontakan dalam rangka membentuk Negara komunis di Indonesia yang mengubah dasar Negara dari Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi dasar kepercayaan ketiadaan Tuhan atau atheism.
Ketiga, PKI dalam hal pengkhianatan terhadap NKRI telah melakukan serangkaian tindakan kekerasan dan pembunuhan kepada para alim ulama, para aktivis Islam seperti Banser, dan NU di Jawa Timur, melakukan tindakan provokasi  terhadap Presiden Soekarno agar membubarkan organisasi Islam seperti Masyumi, serta melakukan tindakan pembunuhan kepada para Jenderal TNI sehingga bentrokan antara para kader dan simpatisan PKI dengan para aktivis Islam dan TNI adalah suatu keniscayaan sebagai akibat dari ualah dan tindakan mereka.
Keempat, adanya wacana untuk membalik fakta sejarah seolah-olah bahwa kader PKI dan simpatisan mereka adalah para korban yang sama sekali tak berdosa adalah  suatu hal yang bertentangan dengan fakta sejarah sehingga adanya upaya tuntutan kepada Negara untuk meminta maaf dan kompensasi adalah suatu hal yang bersifat mengada-ada.
Kelima, adanya berbagai indikasi kebangkitan kembali ajaran ideology PKI di Indonesia seperti upaya pencabutan Tap MPRS No XXV/1966, adalah suatu perkara yang harus diwaspadai dan kembalinya ideology PKI dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia wajib ditolak oleh umat Islam khususnya dan bangsa Indonesia umumnya.
Oleh karena itu, Forum Umat Islam (FUI) menyatakan:
Pertama, menolak wacana dan rencana permintaan  maaf oleh Presiden RI  kepada keluarga PKI atau simpatisannya.
Kedua, menolak RUU KKR yang merupakan agenda kaum komunis dalam prolegnas yang bermaksud menyebarkan kembali ideology komunis dalam kehidupan bernegara.
Ketiga, menuntut pemerintah RI bersikap tegas kepada gejala kebangkitan kembali komunis di Indonesia dengan UUNo 27 tahun 1999 Jo. Pasal 107a-107e KUHP.
Selanjutnya kepada seluruh komponen bangsa FUI mendesak untuk melakukan taubat secara nasional dengan kembali Allah SWT dan menciptakan suasana kehidupan masyarakat yang bertaqwa kepada Allah Tuhan Yang Maha Kuasa agar terbuka pintu-pintu keberkahan bagi kehidupan di negeri ini sebagaimana firman Allah SWT:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.(QS. Al A’raf 96).
Wassalamu’alaikum Wr Wb.
Jakarta, 29 Syawwal 1436H/14 Agustus 2015
KH. Muhammad al Khaththath
Sekretaris Jenderal
FORUM UMAT ISLAM:
Perguruan As Syafi’iyyah, Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam (KISDI), Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia (BKsPPI), Nahdlatul Ulama (NU), Muhamadiyyah, Hizb Dakwah Islam (HDI), Front Pembela Islam (FPI), Gerakan Persaudaraan Muslim Indonesia (GPMI), YPI Al Azhar, Majelis Mujahidin, Jamaah Anshorut Tauhid (JAT), Jamaah Ansharus Syariah (JAS). Gerakan Reformis Islam (GARIS), MER-C, Gerakan Pemuda Islam (GPI), Taruna Muslim, Al Ittihadiyah, Komunitas Muslimah untuk Kajian Islam (KMKI), LPPD Khairu Ummah, Syarikat Islam (SI), Forum Betawi Rempug (FBR), Tim Pengacara Muslim (TPM), Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI), Dewan Masjid Indonesia (DMI), PERSIS, BKPRMI, Al Irsyad Al Islamiyyah, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Badan Kontak Majlis Taklim (BKMT), Front Pemuda Islam Suarakarta (FPIS), Majelis Tafsir Al Quran (MTA), Majelis Az Zikra, PP Daarut Tauhid, Korps Ulama Betawi, Hidayatullah, AlWashliyyah, KAHMI, PERTI, Ittihad Mubalighin, Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), Koalisi Anti Utang (KAU), PPMI, PUI, JATMI, PII, KBPII, BMOIWI, Wanita Islam, Pesantren Missi Islam, Forum Silaturahmi Antar-Pengajian (FORSAP), MDUI, DAINA, Irena Center, Laskar Aswaja, Wahdah Islamiyah, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Bintang Reformasi (PBR), Partai Nahdlatul Umat Indonesia (PNUI), Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) dan organisasi-organisasi Islam lainnya.
]]>